delivering goodnews
#SetiapPramukaAdalahPewarta

Apakah Benar Musik Karinding Mengandung Unsur Mistis yang Bikin Merinding ?

Indonesia memang negara yang memiliki ragam budaya, mulai dari tarian, makanan, baju adat, seni musik dan masih banyak lagi. Seni musik berkaitan dengan alat musik. Salah satu alat musik yang menjadi ciri khas Indonesia adalah alat musik tradisional.

Salah satu alat musik tradisional yang ada di Nusantara ialah Karinding. Alat musik ini dimainkan di beberapa wilayah dengan sebutan yang berbeda-beda, namun Karinding lebih dikenal sebagai alat musik khas dari Sunda. Bentuknya kecil dan sederhana, alat musik ini masuk ke dalam jenis idiofon atau lamelafon.

Sejarah Karinding

contoh alat musik karinding
Alat Musik Karinding (Foto: SuaraPemimpin)

Menurut sejarah, Karinding sudah hadir sejak enam abad yang lalu, alat ini juga lebih tua dari alat musik kecapi.

Menurut cerita para sesepuh, zaman dahulu ketika petani masih memiliki budaya menunggui sawah, salah satu kegiatan yang biasa dilakukan adalah mengusir hama. Salah satu alat bantu untuk mengusir hama adalah menggunakan Karinding.

Bunyinya memang agak aneh, ada yang bergetar, ada vibrasi, dan juga ada suara yang mendenging. Suara-suara yang keluar dari alat musik Karinding ini terdengar mistis.

Konon katanya, suara-suara aneh dari Karinding ini jika dimainkan mampu mengusir serangga yang merupakan hama di sawah. Hal ini dikarenakan suaranya mungkin mengganggu serangga sehingga serangga akan kabur apabila mendengar suara Karinding.

Seiring berjalannya waktu, budaya menunggui padi sawah atau huma sudah hilang secara perlahan. Kali ini, alat musik Karinding tidak lagi dipakai untuk mengusir hama. Saat ini alat musik Karinding sudah menjadi bagian dari alat musik masyarakat Sunda.

Digunakan perlengkapan upacara adat dan ritual

Pada zaman dahulu, Karinding digunakan sebagai perlengkapan upacara adat atau ritual. Sekarang pun masih ada yang menggunakan alat musik tersebut untuk mengiringi pembacaan rajah.

Alat musik Karinding memiliki tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada yang disebut cecet ucing (buntut kucing), lalu pembatas jarum, dan bagian ujung yang disebut paneunggeul (pemukul). Paneunggeul jika dipukul oleh tangan akan berfungsi untuk menggerakan jarum. Maka, keluarlah bunyi khas dari karinding.

Untuk memperoleh suara yang indah, Karinding harus ditiup dan dikombinasikan dengan diketuk atau ditepuk pada bagian tengah. Suara yang dihasilkan tergantung dari olahan rongga mulut, lidah dan napas. Menurut cerita, nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.

Karinding mengenal gender

Karinding juga mengenal gender, karinding yang digunakan oleh perempuan terbuat dari bambu dengan bentuk seperti susuk sanggul. Sehingga dapat disisipkan pada sanggul. Sedangkan untuk laki-laki, terbuat dari pelepah kawung yang berukuran lebih pendek. Alat musik tersebut dapat disimpan di tempat tembakau atau rokok.

biasanya, Karinding mempunyai panjang 10 cm dan lebar 2 cm, namun tergantung pula dengan fungsi pemakaiannya. Yang dapat mempengaruhi bunyi ialah ukuran yang berbeda, perbedaan cara mengetuk.

Sebagai pengikat hati pasangan

Konon katanya, Karinding juga berfungsi sebagai pemikat hati pasangan. Karinding telah diperkenalkan sejak anak-anak sebagai alat permainan dan saat sudah beranjak remaja, antara laki-laki dan perempuan saling sahut-menyahut dengan nada yang khusus.

Terkandung filosofi

Menurut filosofi, Karinding dianggap memberi simbol tentang alam semesta, lingkungan, serta spiritual. Karinding dapat dibunyikan dengan berbagai cara, yakni dengan ditabuh dan diketuk. Hal ini menyimbolkan teori pembentukan alam semesta. Getaran yang dihasilkan alat musiknya menggambarkan sebuah tanda kehidupan, termasuk dengungan suara yang dihasilkan.

Selain itu, Karinding dianggap sebagai arahan untuk tetap yakin, sabar, dan sadar. Saat memukul atau mengetuk alat musik karinding, harus yakin dan sabar agar menimbulkan bunyi atau suara. Kemudian harus sadar, bahwa suara yang keluar merupakan suara alat musik dan bukan suara kita.

Karinding mengandung norma-norma, yakni norma ketuhanan, kemanusiaan, kemasyarakatan, terdapat hukum waktu, hukum menetapkan kenegaraan, kemudian menentukan demografi kependudukan.

Gerakan melestarikan budaya

Warga negara Indonesia sudah seharusnya memegang teguh kebudayaan, dengan cara terus melestarikan ragam budaya yang dimiliki. Sehingga, kekayaan dan keragaman dapat terus abadi dari masa ke masa. Tidak hanya itu, agar kekayaan budaya Indonesia dapat terus bersinar di mancanegara.