“Kan kudaki Pegunungan Himalaya” bukan sekadar lirik, tapi kisah nyata seorang legenda.
Masih ingat dengan lagu “Penjaga Hati” karya Nadhif Basalamah yang mempunyai lirik begitu menyentuh: “Kan kudaki Pegunungan Himalaya. Apapun kan Kulakukan tuk Dirimu sayang, oh Penjaga Hati”, yang bagi banyak orang, itu hanya metafora cinta. Tapi bagi Don Hasman, lirik itu adalah bagian dari kisah hidupnya yang luar biasa.
Don Hasman, pria kelahiran 7 Oktober 1940, adalah legenda fotografi dan petualangan Indonesia. Ia bukan hanya memotret keindahan budaya Nusantara, tapi juga benar-benar menaklukkan Pegunungan Himalaya sebanyak tiga kali—pada 1976, 1978, dan 1996. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil mencapai salah satu puncak tertinggi di dunia tersebut.
Di usia muda, Don memulai perjalanan fotografinya dengan kamera pinjaman kakak. Seiring waktu, kamera menjadi bagian dari jiwanya. Namun, bukan hanya sebagai fotografer, ia juga dikenal sebagai pendaki, penjelajah, penulis, dan pelestari budaya. Don pernah menaklukkan Nuptse, Kala Patthar, hingga Kilimanjaro di Afrika.
Bagi Don, perjalanan bukan sekadar fisik. Itu adalah cara untuk mengenal manusia, budaya, dan makna hidup. Maka tak heran jika banyak yang menjulukinya sebagai “Bapak Etnofotografi Indonesia”. Foto-fotonya bukan hasil setting-an, tapi potret jujur dari kehidupan nyata masyarakat.
Salah satu mahakaryanya adalah buku Urang Kanekes (Baduy People), yang ia selesaikan setelah 500 kali kunjungan ke Baduy selama 39 tahun. Ini bukan sekadar buku foto, tapi arsip budaya yang hidup.
“Fotografi itu soal mata, bukan alat. Soal rasa, bukan teknik,” tegas Don. Ia tak peduli tren, yang ia kejar adalah keaslian. Ia percaya setiap potret harus berbicara.
Kini, di usia senja, semangat Don belum padam. “Kalau pandemi ini saya bisa lolos, saya masih ingin menjelajahi tempat-tempat sulit,” katanya.
Ketika lirik lagu “Penjaga Hati” menyebut Himalaya, Don Hasman sudah melampauinya sejak puluhan tahun lalu. Ia bukan hanya menjaga hatinya sendiri, tapi juga menjaga ingatan kolektif bangsa lewat karya-karya dan petualangannya.











