Sejarah bukan sekadar masa lalu, tapi cermin identitas yang membentuk masa depan.
Jejak peradaban di tanah Sunda terbentang sejak masa prasejarah. Bukti peninggalan seperti situs Cipari di Kuningan, Bojongmenje di Bandung, dan Cangkuang di Garut menjadi saksi awal kehidupan masyarakat Jawa Barat. Struktur sosial telah berkembang, menunjukkan masyarakat yang tertata jauh sebelum era modern.
Pada abad ke-5, berdirilah Kerajaan Tarumanagara, kerajaan Hindu tertua di wilayah ini. Prasasti berbahasa Sansekerta dan aksara Pallawa memperlihatkan betapa majunya peradaban kala itu. Setelah Tarumanagara runtuh, tongkat kekuasaan berpindah ke Kerajaan Sunda, dengan pusat di Pakuan Pajajaran.
Puncak kejayaan kerajaan ini terjadi di bawah Sri Baduga Maharaja, yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Namun, seiring datangnya Islam melalui pelabuhan seperti Cirebon dan Banten, perubahan besar pun terjadi. Tahun 1579 menjadi saksi tumbangnya Kerajaan Sunda, digantikan oleh Kesultanan Banten dan Cirebon, serta lahirnya kabupaten-kabupaten seperti Bandung dan Cianjur.
“Keruntuhan Kerajaan Sunda menandai awal peralihan budaya dan sistem pemerintahan di tanah Sunda,” ujar Harley Bayu Sastha dalam bukunya Sekilas Jawa Barat.
Penjajahan Belanda membawa babak baru yang penuh tekanan. VOC dan kolonialisme Belanda memperkenalkan sistem tanam paksa dan eksploitasi sumber daya. Namun, semangat perlawanan masyarakat Sunda tidak pernah padam. Tokoh-tokoh seperti Sultan Ageng Tirtayasa dan Kiai Hasan Arif muncul sebagai simbol perlawanan.
Perlawanan rakyat memuncak saat penjajah berhasil diusir pada 8 Maret 1942, sebelum akhirnya Indonesia merdeka pada 1945.
Pasca kemerdekaan, sistem pemerintahan berubah dari sentralistik ke desentralistik. Masyarakat Sunda aktif memperjuangkan identitas mereka dalam bingkai NKRI. Salah satunya melalui gerakan Tatar Sunda anu Tata-Tengtrem Karta Harja, yang mendorong keseimbangan antara budaya dan pembangunan.
Provinsi Jawa Barat kemudian dimekarkan, menghasilkan Provinsi Banten sebagai wilayah baru. Namun, jati diri masyarakat Sunda tetap kokoh, ditandai dengan kuatnya nilai gotong royong, penggunaan bahasa Sunda, dan kehidupan beragama yang harmonis.
Warisan budaya ini menjadi fondasi yang tetap relevan, sekaligus sumber inspirasi di tengah arus modernisasi. Sejarah panjang ini bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi identitas yang terus hidup di hati masyarakat Jawa Barat.












