Cisayong – Pransacitas berkolaborasi dengan Pesantren Pramuka Khalifa sukses menyelenggarakan kegiatan Full Da Camp Jamboree on the Air dan Jamboree on the Internet (JOTA-JOTI) dengan mengusung tema “Terhubung Secara Global, Bangun Solidaritas” pada Sabtu (19/10/2024)
Kegiatan ini diikuti oleh 32 anggota Pramuka dari SMPN 1 Cisayong, dengan tujuan memperluas wawasan peserta dan mengasah keterampilan berkomunikasi lintas budaya melalui platform digital dan komunikasi radio bersama pramuka dari berbagai negara.
Pentas Seni Membuka Acara Full Day Camp
Acara resmi dibuka oleh Evis Santika Novianti, S.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, mewakili Kamabigus. Dalam sambutannya, Evis menyampaikan pesan penting kepada peserta.
“JOTA-JOTI ini adalah ajang internasional yang mempertemukan peserta dari lebih dari 150 negara. Semoga kegiatan ini tidak hanya memperkaya ilmu, wawasan, dan pengalaman, tetapi juga memotivasi peserta untuk mengaplikasikan semua itu dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai pramuka bukan sekadar teori atau narasi, tetapi tindakan nyata. “Pramuka adalah bukti dan aksi. Kami berharap Pransacitas menjadi generasi penerus bangsa yang aktif, kreatif, dan bermanfaat,” tambah Evis.
Selain itu acara Pentas Seni Mewarnai acara pembukaan full day camp ini.
Interaksi Global Melalui Aplikasi Zello
Salah satu sesi menarik dalam acara ini adalah komunikasi interaktif menggunakan aplikasi Zello, dipandu oleh narasumber Ka Charles dari Papua. Peserta mendapat kesempatan langsung berinteraksi dengan komunitas internasional dalam suasana yang interaktif dan edukatif.
“ Apakah harus menggunakan bahasa Inggris?” Tanya salah satu Peserta Full Day Camp.
“Kalau orang luar negeri paham bahasa Indonesia, kenapa harus pakai bahasa Inggris? Bahasa Inggris digunakan jika lawan bicara tidak bisa bahasa Indonesia.”
Sementara itu, Zulfa bertanya tentang penggunaan alfabet fonetik dalam JOTA-JOTI.
Ka Charles menjelaskan bahwa komunikasi internasional menuntut kejelasan dan keseragaman. “Penyebutan dengan alfabet fonetik penting agar semua orang dari berbagai negara bisa mengerti, karena setiap lidah berbeda dalam melafalkan nama atau kata,” jelasnya.
Biasakan yang Benar, Bukan Membenarkan yang Biasa
Menutup sesi tersebut, Ka Charles berpesan kepada para peserta, “Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.” Pesan ini menjadi refleksi agar peserta terus memegang nilai-nilai kebenaran dan tidak terjebak dalam kebiasaan yang keliru.
Acara JOTA-JOTI ini berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Melalui interaksi global dan pengalaman baru yang mereka peroleh, diharapkan mereka menjadi pramuka yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga mampu menginspirasi dengan tindakan nyata.

















