Hiruk-pikuk pelantikan massal Pramuka Garuda menghiasi linimasa media sosial, baliho-baliho pinggir jalan, dan laporan kegiatan kwartir, ada ironi yang terlalu getir untuk diabaikan. Prestasi yang seharusnya menjadi puncak pencapaian seorang Pramuka kini tampak seperti dagangan diskon akhir tahun: mudah, cepat, dan dikemas rapi untuk dipamerkan. Kita, ya, kita para orang dewasa dalam Gerakan Pramuka tengah asyik bermain peran dalam sandiwara kebanggaan semu yang kita ciptakan sendiri.
Dulu, Pramuka Garuda adalah simbol tertinggi dari dedikasi, ketekunan, dan karakter yang teruji. Ia lahir dari proses panjang, penuh tempaan, dan pendampingan pribadi yang intensif. Kini? Cukup hadiri pelatihan dua hari, kumpulkan beberapa berkas, dan ikut sesi foto bersama, lalu voila, seorang “Garuda” baru lahir. Apakah ia sudah benar-benar menguasai keterampilan dasar? Sudah menjalani proyek pengabdian sosial? Atau bahkan sekadar tahu makna di balik syarat-syarat yang dicentang di formulir?
Yang lebih menyedihkan, banyak dari pelantikan itu bahkan tidak melibatkan penilaian sejati. Tidak ada pendalaman, tidak ada pengujian integritas. Yang penting seragam rapi, pin mengilap, dan bisa jadi bahan postingan.
Mari kita jujur, pelantikan massal Pramuka Garuda bukan untuk anak-anak itu. Itu untuk kita. Untuk ego para pembina, kwartir, bahkan pejabat dinas yang haus tepuk tangan. Kita mencari kebanggaan instan dari angka-angka. Kita lebih sibuk menghitung berapa ratus yang dilantik, daripada memastikan satu anak benar-benar tumbuh.
Ada pembina yang dengan bangga berkata, “Tahun ini kami melantik 120 Pramuka Garuda.” Tapi ketika ditanya berapa yang benar-benar dibina secara mendalam, jawabannya samar. Mengapa kita begitu kemaruk angka, tapi lupa esensi? Jawabannya sederhana, karena kita sendiri belum selesai belajar makna kedewasaan. Kita terjebak dalam politik pencitraan, obsesif mengejar pencapaian semu, sambil menepuk dada seolah telah berhasil membina generasi tangguh.
Pembinaan karakter tidak bisa dikloning massal. Ia harus tumbuh dalam ruang yang personal, dalam proses yang bertahap, melalui pengalaman dan refleksi. Karakter bukan hasil dari seremoni, melainkan buah dari pembiasaan. Tapi hari ini, kita melanggar semua itu. Kita mereduksi proses menjadi formalitas, menjadikan badge Pramuka Garuda bukan sebagai lambang kemuliaan, tapi sekadar aksesori seragam.
Apa bedanya dengan ijazah palsu? Atau gelar akademik yang dibeli? Anak-anak kita sedang kita biasakan untuk percaya bahwa simbol bisa lebih penting dari substansi. Bahwa cukup ikut pelatihan dan hadir saat apel, maka semua bisa didapatkan. Kita sedang membentuk generasi shortcut, anak-anak yang mengira prestasi adalah soal tampil, bukan soal menjadi.
Untuk Siapa Sebenarnya Gerakan Ini?
Gerakan Pramuka pernah menjadi benteng pembentukan karakter bangsa. Tapi saat ini, kita harus bertanya dengan serius, untuk siapa gerakan ini dijalankan? Apakah untuk anak-anak yang dibina? Ataukah hanya untuk orang dewasa yang belum selesai membina dirinya sendiri?
Kita melihat para pejabat berlomba hadir di pelantikan massal, memberikan sambutan penuh kata-kata manis, tapi tidak pernah hadir dalam proses pembinaan riil. Kita lihat pembina sibuk menyiapkan dokumentasi dan laporan, tapi tak punya waktu untuk duduk mendengarkan cerita peserta didik. Kita lihat kwartir sibuk merancang program spektakuler, tapi lupa bahwa pendidikan karakter tumbuh dari hal-hal kecil yang konsisten.
Kalau kita serius ingin melahirkan generasi tangguh, maka kita harus berani menghentikan sandiwara ini. Mari kita kembalikan makna Pramuka Garuda sebagai anugerah tertinggi yang harus diperjuangkan, bukan diberikan. Jangan lagi kita memperlakukan simbol ini seperti stiker hadiah dari kotak makanan cepat saji.
Marilah kita, orang dewasa di Gerakan Pramuka, belajar menjadi dewasa. Berhenti mengejar tepuk tangan dan mulai menanam nilai. Karena dalam dunia pendidikan karakter, keberhasilan tidak diukur dari jumlah pelantikan, tapi dari satu anak yang tumbuh menjadi manusia berintegritas karena kita setia mendampingi prosesnya.
Jalan yang benar memang tidak selalu populer. Tapi jika kita benar-benar mencintai bangsa ini, mencintai anak-anak kita, dan mencintai Gerakan Pramuka, maka kita harus memilih jalan yang sulit itu. Kita harus berani berkata tidak pada budaya instan, dan mulai menata kembali pembinaan yang berkarakter, personal, dan bermakna.
Mari berhenti membenarkan yang biasa, dan mulai membiasakan yang benar. Karena kebanggaan sejati tidak lahir dari pin di dada, melainkan dari nilai yang tertanam di jiwa. Dan nilai itu hanya bisa tumbuh jika kita, para orang dewasa, benar-benar berani menjadi dewasa.


















