Keindahan sejati tidak selalu di puncak, kadang ia mengalir tenang di lembah yang tersembunyi.
Spot menawan ini terletak di ketinggian ±1.628 mdpl dan bisa dijangkau sekitar 1 jam berjalan kaki dari pintu masuk pendakian Cibodas, atau hanya 10–15 menit dari Pos Panyangcangan. Jalurnya berada di sisi kiri trek utama menuju puncak Gunung Gede-Pangrango, menjadikannya destinasi populer baik bagi pendaki maupun pengunjung umum.
Terdapat tiga air terjun di lokasi ini, masing-masing berasal dari aliran Sungai Cidendeng dan Cikundul. Tingginya sekitar 30–40 meter, mengalir deras di antara tebing batu berlumut yang menciptakan suasana alami dan magis. Kawasan sekitar air terjun ditata dengan rapi dan nyaman untuk bersantai.
“Penataan kawasan Cibeureum dilakukan dengan sengaja agar tetap alami, tapi nyaman untuk wisata,” tulis Harley Bayu Sastha.
Di sekeliling air terjun, pengunjung juga dapat melihat keanekaragaman satwa liar, termasuk berbagai jenis monyet endemik. Jika beruntung, Anda bisa menjumpai Owa Jawa, Lutung, Monyet Ekor Panjang, dan Surili—satwa langka dengan bulu abu-abu dan putih yang hanya ada di Jawa Barat.
Selain itu, tak jauh dari lokasi air terjun terdapat Gua Lalai, tempat bersejarah yang dahulu sering dikunjungi para peziarah. Nama “Cibeureum” sendiri diambil dari bahasa Sunda yang berarti “air merah”, mengacu pada warna kemerahan dari batuan berlumut yang menempel pada dinding tebing.
Bagi pengunjung non-pendaki, air terjun ini adalah destinasi utama di jalur Cibodas. Letaknya yang relatif dekat dan medannya yang tidak terlalu berat menjadikannya tempat wisata keluarga yang edukatif dan menyegarkan.
Di musim hujan, debit air melimpah dan warna air telaga terlihat lebih hidup. Di musim kemarau, warna air berubah lebih jernih atau kecokelatan, mencerminkan perubahan ekosistem alami yang memikat untuk diamati.












