Langkah-langkah sunyi di tengah hutan lebat kadang membawa kita ke puncak paling dalam dalam diri.
Gunung Pangrango (±3.019 mdpl) merupakan puncak yang lebih sepi dibanding Gunung Gede. Namun justru karena itu, jalur ini menyuguhkan ketenangan dan tantangan tersendiri. Jika Anda mendaki dari jalur Cibodas dan berencana menaklukkan kedua puncak sekaligus, disarankan untuk mendaki Pangrango lebih dahulu.
Jalur menuju Pangrango dikenal lebih curam dan berliku, melewati hutan hujan tropis yang masih sangat lebat. Karena jarang dilewati, jalur ini sering terlihat bersih dari sampah, namun kadang terdapat pohon tumbang melintang yang menambah kesan petualangan.
“Pohon-pohon besar yang diselimuti lumut lebat menjadi ciri khas jalur Pangrango,” tulis Harley Bayu Sastha.
Semakin mendekati puncak, vegetasi berubah. Tanaman tinggi tergantikan oleh semak belukar dan perdu, dengan tinggi sekitar 2–3 meter. Di antaranya tumbuh Cantigi—tumbuhan gunung berwarna ungu berbunga kecil, dengan daun muda kemerahan dan tangkai merah jingga yang indah.
Waktu tempuh menuju puncak Pangrango dari Pos Kandang Badak berkisar 3 hingga 3,5 jam, tergantung kondisi cuaca dan stamina pendaki. Dari puncak, Anda bisa menikmati ketenangan total dan panorama hijau tak bertepi.
Di bawah puncak terdapat Alun-alun Mandalawangi, hamparan rumput luas yang menjadi tempat favorit untuk berkemah dan merenung. Tempat ini juga dikenal karena disebut dalam puisi legendaris Soe Hok Gie, menjadikannya simbol spiritualitas pendakian.
Gunung Pangrango adalah puncak kesunyian yang memikat. Tidak semua mendaki ke sana, tapi mereka yang pernah menapaki jalurnya akan mengingatnya sepanjang hayat.












