Kadang, yang kita butuhkan bukan puncak—melainkan jeda yang menenangkan di tengah perjalanan.
Setelah melewati Air Terjun Cibeureum, pendaki yang melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Gede akan tiba di Pos Air Panas yang berada di ketinggian ±2.150 mdpl. Lokasinya dapat dijangkau dalam waktu ±1,5 jam dari Pos Panyangcangan. Jalur menuju ke sana menyuguhkan pemandangan hutan dan lembah curam, dengan suhu udara yang makin menurun.
Di pos ini, terdapat aliran air panas alami yang keluar dari perut bumi. Sumbernya adalah lava tua dari letusan Gunung Gede pada tahun 1747. Wisatawan kerap memanfaatkan area ini untuk beristirahat sejenak, bahkan mandi kaki atau membasuh tangan demi merasakan hangatnya alam.
Tersedia dua bangunan kecil beratap sebagai pos peristirahatan permanen. Di area sekitarnya juga terdapat ruang terbuka yang bisa digunakan sebagai lokasi berkemah sederhana. Suhu di titik ini cukup ekstrem, namun kehangatan air membantu tubuh tetap nyaman selama perjalanan.
Selanjutnya, perjalanan berlanjut ke Pos Lebak Saat atau Kandang Batu (±2.220 mdpl). Meski hanya butuh waktu 10–15 menit dari Pos Air Panas, tempat ini memiliki cerita unik. Namanya mengacu pada kondisi geografisnya: “lembah tanpa air”. Namun ironisnya, kawasan ini justru memiliki sumber air melimpah.
“Pos ini lebih dikenal sebagai Kandang Batu karena terdapat rumah batu kecil dari tumpukan batu kali,” tulis Harley Bayu Sastha. Lokasi ini cukup datar dan luas, cocok dijadikan tempat mendirikan tenda sebelum mendaki ke ketinggian selanjutnya.
Kehadiran sumber air dan permukaan datar menjadikan Kandang Batu titik ideal bagi pendaki yang ingin bermalam dengan nyaman. Di sini, Anda bisa menyatu dengan alam sambil mempersiapkan stamina menuju Pos Kandang Badak, gerbang menuju jalur puncak dan lembah Suryakencana.












